Ajal Pun Segera Menemui

hyAzn
0





Waktu kembali mengajarkan kepada kita bahwa yang bernyawa pasti akan pergi meninggalkan dunia yang fana, ia hanya masalah waktu. Pun dengan semua impian dan keinginan kita, ia hanya masalah waktu. Waktu mengajarkan kita bahwa, entah kapan kematian akan datang menghampiri kita, yang pasti ia akan datang pada waktu yang tidak dapat ditentukan.

Aku teringat pada kisah seorang nabi yang mempertanyakan kepada malaikat, jika nanti ajalku akan datang, mohon kabari aku. Malaikat mengiyakan permintaan nabi tersebut (lupa nama nabinya). Maka beriring waktu yang berjalan, meninggallah beberapa orang di antara penduduk yang ada. Kematian-kematian menghampiri orang-orang yang ada di sekitar nabi tersebut.

Pada suatu hari datanglah malaikat mengatakan, bahwa aku akan mencabut nyawamu, karna ajalmu sudah sampai. Maka nabi itu pun bertanya, kenapa tidak kau beritahu aku dari jauh hari bahwa ajalku telah sampai, bukankah kemarin aku meminta kepadamu agar engkau menyampaikan terlebih dahulu.

Malaikat pun menjawab, bukankah sudah aku berikan isyarat dan kabar dengan kematian-kematian rekan yang ada. Seketika nabi pun terdiam. 

Kira-kira begitulah kisah tentang waktu kematian.  Kematian-kematian rekan-rekan yang kita kenal sebenarnya mengingatkan kita bahwa waktu untuk kita pun tidak akan lama lagi. Sebentar lagi, namun ia rahasia. Kita tidak tau ia akan datang jam berapa, tanggal berapa dan hari apa. Kapan pun waktunya, maka kematian terbaiklah yang selalu kita damba. Mati dalam keadaan terbaik khusnul khotimah.

Kita, mungkin merasa cerdas dan pintar. Namun sejatinya kita bukanlah cerdas, karena rasulullah sudah mengatakan, seseorang yang cerdas adalah yang senantiasa mengingat kematian.

Dari Ibnu Umar RA berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama? Rasulullah menjawab, “Yang paling baik akhlaqnya”. Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”. Beliau menjawab, “Yang paling banyak ingat mati kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy).

Kita, siapapun kita bukanlah siapa-siapa dan bukanlah orang hebat yang cerdas dan pintar jika tidak selalu menngingat kematian, karena cerdas versi Rasulullah adalah yang senantiasa mengingat mati dan mempersiapkan kematian itu dengan baik. 

Sahabat, hidup  ini hanyalah tentang perjalanan dan waktu, terlalu banyak misteri yang tidak bisa kita pecahkan, kita ingat dan tau bahwa kita akan mati, kadang tidak lupa dan bahkan sering lupa. Tulisan ini aku dedikasikan atas meninggalnya seorang junior yang bernama “Nelfiana Sari Rambe”

Kepergianmu kembali mengingatkan ku bahwa, aku harus menjadi pribadi cerdas, bias jadi kepergianmu adalah peringatan buatku bahwa tidak lama lagi mungkin giliranku menyusulmu.

Kematian demi kematian telah menghampiri setiap rekan, sahabat, keluarga dan teman. Mempersiapkan kematian dengan ibadah yang hanya mengharapkan Ridho-Nya, hanya itu saja yang bisa dilakukan. Setiap aktivitas akan menjadi ibadah disaat kita niatkan karena-Nya dan mengharapkan Ridho-Nya. 

Semoga engkau yang duluan pergi meninggalkan dunia yang fana dan gersang ini mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dan kami yang akan menyusul mampu mempersiapkan diri menuju kematian.

Tulisan ini juga bisa dibaca di sini



Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)