Waktu kembali mengajarkan kepada kita bahwa yang
bernyawa pasti akan pergi meninggalkan dunia yang fana, ia hanya masalah waktu.
Pun dengan semua impian dan keinginan kita, ia hanya masalah waktu. Waktu mengajarkan
kita bahwa, entah kapan kematian akan datang menghampiri kita, yang pasti ia
akan datang pada waktu yang tidak dapat ditentukan.
Aku teringat pada kisah seorang nabi yang
mempertanyakan kepada malaikat, jika nanti ajalku akan datang, mohon kabari
aku. Malaikat mengiyakan permintaan nabi tersebut (lupa nama nabinya). Maka beriring
waktu yang berjalan, meninggallah beberapa orang di antara penduduk yang ada. Kematian-kematian
menghampiri orang-orang yang ada di sekitar nabi tersebut.
Pada suatu hari datanglah malaikat mengatakan, bahwa
aku akan mencabut nyawamu, karna ajalmu sudah sampai. Maka nabi itu pun
bertanya, kenapa tidak kau beritahu aku dari jauh hari bahwa ajalku telah
sampai, bukankah kemarin aku meminta kepadamu agar engkau menyampaikan terlebih
dahulu.
Malaikat pun menjawab, bukankah sudah aku berikan
isyarat dan kabar dengan kematian-kematian rekan yang ada. Seketika nabi pun
terdiam.
Kira-kira begitulah kisah tentang waktu
kematian. Kematian-kematian rekan-rekan
yang kita kenal sebenarnya mengingatkan kita bahwa waktu untuk kita pun tidak
akan lama lagi. Sebentar lagi, namun ia rahasia. Kita tidak tau ia akan datang
jam berapa, tanggal berapa dan hari apa. Kapan pun waktunya, maka kematian
terbaiklah yang selalu kita damba. Mati dalam keadaan terbaik khusnul khotimah.
Kita, mungkin merasa cerdas dan pintar. Namun sejatinya
kita bukanlah cerdas, karena rasulullah sudah mengatakan, seseorang yang cerdas
adalah yang senantiasa mengingat kematian.
Dari Ibnu Umar RA berkata, “Suatu hari aku duduk
bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang
lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang
mukmin yang paling utama? Rasulullah menjawab, “Yang paling baik akhlaqnya”.
Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”. Beliau
menjawab, “Yang paling banyak ingat mati kemudian yang paling baik dalam
mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu
Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy).
Kita, siapapun kita bukanlah siapa-siapa dan
bukanlah orang hebat yang cerdas dan pintar jika tidak selalu menngingat
kematian, karena cerdas versi Rasulullah adalah yang senantiasa mengingat mati
dan mempersiapkan kematian itu dengan baik.
Sahabat, hidup
ini hanyalah tentang perjalanan dan waktu, terlalu banyak misteri yang
tidak bisa kita pecahkan, kita ingat dan tau bahwa kita akan mati, kadang tidak
lupa dan bahkan sering lupa. Tulisan ini aku dedikasikan atas meninggalnya
seorang junior yang bernama “Nelfiana Sari Rambe”
Kepergianmu kembali mengingatkan ku bahwa, aku harus
menjadi pribadi cerdas, bias jadi kepergianmu adalah peringatan buatku
bahwa tidak lama lagi mungkin giliranku menyusulmu.
Kematian demi kematian telah menghampiri setiap
rekan, sahabat, keluarga dan teman. Mempersiapkan kematian dengan ibadah yang
hanya mengharapkan Ridho-Nya, hanya itu saja yang bisa dilakukan. Setiap aktivitas
akan menjadi ibadah disaat kita niatkan karena-Nya dan mengharapkan Ridho-Nya.
Semoga engkau yang duluan pergi meninggalkan dunia
yang fana dan gersang ini mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dan kami
yang akan menyusul mampu mempersiapkan diri menuju kematian.
Tulisan ini juga bisa dibaca di sini
Tulisan ini juga bisa dibaca di sini

